Di Bawah Lindungan Ka'bah; Digarap Serius dan Melibatkan Banyak Artis Senior
“Di Bawah Lindungan Kabah” diangkat dari novel karya Almarhum Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau biasa dipanggil Buya HAMKA. Seorang tokoh besar negeri ini. Seorang yang bijak dan cerdas. Tutur katanya santun berisi, tulisannya padat bermakna. Maka tidak berlebihan bila beliau kerap menjadi panutan banyak orang. Nama dan karyanyapun dikenang.
DBLK bercerita tentang kekuatan cinta, berpadu dengan kekentalan adat budaya, berjalan didalam koridor agama. Lengkap! Berawal dari persahabatan Hamid (Junot) dan Zainab (Bella) di masa kecil, hingga tumbuh dewasa. Seiring berjalannya waktu persahabatan itupun tumbuh menjadi cinta. Hamid dari keluarga miskin, Zainab dari keluarga kaya. Bagaimana rasanya bila seseorang terpaksa harus melepas miliknya yang paling berharga di dunia? Bahkan belum menjadi miliknyapun, ia sudah diberi garis tegas untuk menjauh, dan memberikannya kepada orang lain. Begitulah kira-kira nasib yang dialami Hamid. Sebagai seorang yang periang dan blak-blakan, Hamid bukan tidak mampu mempertahankan perjuangannya untuk memiliki Zainab, tapi ia dihadapkan pada pilihan sulit antara cinta dan jasa. Keluarga Zainab adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Hamid, yang telah menyekolahkannya sejak kecil hingga dewasa.
Zainab, gadis yang tertutup dan lemah ini tidak mampu menyuarakan isi hatinya betapa ia juga mencintai Hamid, sekalipun ia terpaksa harus menerima pinangan laki-laki lain. Lalu, dimanakah kekuatan cinta bila ajal sudah hampir tiba?
Selama 2 tahun lebih MD Pictures mempersiapkan pembuatan film besar ini, dan menggarapnya dengan serius. Setting Kabah di Mekkah tahun 1920an bukanlah hal mudah untuk divisualisasikan. Ketajaman pemilihan pemain dan karakter juga harus pas. Oleh karenanya dalam film ini juga banyak melibatkan artis-artis senior seperti Yenny Rachman, Widyawati, Didi Petet, dan Leroy Osmani.
Bintang muda yang tidak kalah berbakat seperti Laudya Cynthia Bella, Herjunot Ali, Niken Anjani, Tara Budiman dan Agung Putra Perwira, turut ambil peran dalam film ini. Kemampuan akting mereka benar-benar diuji bermain bersama para seniornya dalam DBLK.
Cerita ini begitu kuat, dengan kisah cinta yang begitu agung. MD Pictures merasa harus mendapatkan orang yang tepat dan berpengalaman dalam penokohan setiap karakternya. Itu pula sebabnya mengapa DBLK ini penulisannya dipercayakan kepada dua orang sekaligus, yakni Titien Wattimena dan Armantono, dengan arahan sutradara penuh bakat Hanny Saputra. Disempurnakan dengan teknik animasi seorang animator handal, Dana Riza, serta tata busana yang dirancang langsung oleh perancang busana terkemuka Indonesia, Samuel Wattimena.
“Ini novel bagus, karya tokoh besar, ditambah MD sudah punya standard tertentu dalam mengemas film jenis ini, makanya kami harus benar-benar serius dan matang dalam persiapan maupun pelaksanaannya”, demikian Manoj Punjabi – Produser MD Pictures.
DBLK bercerita tentang kekuatan cinta, berpadu dengan kekentalan adat budaya, berjalan didalam koridor agama. Lengkap! Berawal dari persahabatan Hamid (Junot) dan Zainab (Bella) di masa kecil, hingga tumbuh dewasa. Seiring berjalannya waktu persahabatan itupun tumbuh menjadi cinta. Hamid dari keluarga miskin, Zainab dari keluarga kaya. Bagaimana rasanya bila seseorang terpaksa harus melepas miliknya yang paling berharga di dunia? Bahkan belum menjadi miliknyapun, ia sudah diberi garis tegas untuk menjauh, dan memberikannya kepada orang lain. Begitulah kira-kira nasib yang dialami Hamid. Sebagai seorang yang periang dan blak-blakan, Hamid bukan tidak mampu mempertahankan perjuangannya untuk memiliki Zainab, tapi ia dihadapkan pada pilihan sulit antara cinta dan jasa. Keluarga Zainab adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Hamid, yang telah menyekolahkannya sejak kecil hingga dewasa.
Zainab, gadis yang tertutup dan lemah ini tidak mampu menyuarakan isi hatinya betapa ia juga mencintai Hamid, sekalipun ia terpaksa harus menerima pinangan laki-laki lain. Lalu, dimanakah kekuatan cinta bila ajal sudah hampir tiba?
Selama 2 tahun lebih MD Pictures mempersiapkan pembuatan film besar ini, dan menggarapnya dengan serius. Setting Kabah di Mekkah tahun 1920an bukanlah hal mudah untuk divisualisasikan. Ketajaman pemilihan pemain dan karakter juga harus pas. Oleh karenanya dalam film ini juga banyak melibatkan artis-artis senior seperti Yenny Rachman, Widyawati, Didi Petet, dan Leroy Osmani.
Bintang muda yang tidak kalah berbakat seperti Laudya Cynthia Bella, Herjunot Ali, Niken Anjani, Tara Budiman dan Agung Putra Perwira, turut ambil peran dalam film ini. Kemampuan akting mereka benar-benar diuji bermain bersama para seniornya dalam DBLK.
Cerita ini begitu kuat, dengan kisah cinta yang begitu agung. MD Pictures merasa harus mendapatkan orang yang tepat dan berpengalaman dalam penokohan setiap karakternya. Itu pula sebabnya mengapa DBLK ini penulisannya dipercayakan kepada dua orang sekaligus, yakni Titien Wattimena dan Armantono, dengan arahan sutradara penuh bakat Hanny Saputra. Disempurnakan dengan teknik animasi seorang animator handal, Dana Riza, serta tata busana yang dirancang langsung oleh perancang busana terkemuka Indonesia, Samuel Wattimena.
“Ini novel bagus, karya tokoh besar, ditambah MD sudah punya standard tertentu dalam mengemas film jenis ini, makanya kami harus benar-benar serius dan matang dalam persiapan maupun pelaksanaannya”, demikian Manoj Punjabi – Produser MD Pictures.
